(Fanfic) DARK LIGHT Part 7

(Fanfic) DARK LIGHT Part 7
By Eka Foezianx
Editor Kartika

#(PART 7)
TETANGGA BARU

12 Maret 1995, (keesokan harinya)
Pagi ini YUME sengaja tidak sarapan pagi karena ingin makan makanan langka itu bersama paman pemilik rumah makan tempat ibunya bekerja. Hari sudah hampir siang namun paman Ryota belum juga muncul. YUME mengerjakan sisa tugasnya dengan rasa lapar dan tidak sabar untuk makan makanan itu. Tak lama sebuah mobil berhenti di depan rumah kecil YUME. Anak itu bergegas mengintip dari jendela berharap itu adalah paman Ryota. Namun ternyata itu adalah tetangga YUME yang baru beberapa hari ini pindah di seberang rumahnya. YUME mengintip tetangganya, keliatan seperti bukan penduduk asli. Memang mereka baru seminggu berada di daerah itu.

Keluarga itu datang dari Indonesia, mereka adalah keluarga pemusik yang selalu berpindah-pindah untuk mencari pengalaman yang luas dalam bermusik dan memuaskan hobby mereka dalam berpetualang. Seorang wanita cantik dan masih kelihatan muda dan seorang laki-laki dewasa gagah turun dari mobil itu, pintu belakang mobil juga terbuka.

“Mereka telah punya anak..” gumam YUME.
“Siapa.?” Seseorang bicara.
“Itu tetangga…” spontan jawab YUME, anak itu kaget dan berbalik. Tidak ada siapa-siapa di ruangan itu. YUME merinding mendadak.
“Siapa itu.?” Kata yume panik dan takut. Tidak ada respon.

YUME kembali memperhatikan tetangganya. Namun kini anak tetangga tadi telah sampai di depan pintu rumah dan masuk kedalam. YUME nampak kecewa karena tidak bisa melihat wajah anak itu.

“Sebenarnya aku malas bicara dengan kamu tapi kami lapar, sejak kemarin kami belum makan YUME!!!” Suara itu muncul lagi. YUME berbalik, namun tidak ada siapa-siapa di dalam ruangan. YUME makin merasa takut.
“Hey bisakah kau memberi jatah makan kami untuk hari ini YUME???” Suara itu lagi. YUME menatap tajam ke seluruh ruangan dan mencari asal suara.
“Siapa itu yang sedang main-main dengan aku?!” Kata YUME mulai kesal.
“Kami lapar bukan ingin main-main.” Suara itu malah makin terdengar aneh. YUME masih kebingungan melihat ke seluruh ruangan.
“Kami di akuarium anak bod#h..” suara itu kembali berucap. Sekejap anak itu melihat koleksi peliharaannya.
“Jadi kalian yang..” belum habis YUME berbicara.
“Bisakah segera siapkan makanan kami YUME.” Kata Hita, salah satu kura-kura YUME.
“Jangan pikir kami tidak lapar, YUME.” Sahut Micha dengan kesal.
“Kami lapar..” serentak semua hewan itu membuat ruangan seperti pasar. YUME masih terpana dengan binatang peliharaan miliknya yang bisa berbicara layaknya manusia.
“Hey, makan!!!” Teriak Hita kembali.

Suara itu menyadarkan YUME dan segera memasukkan makanan ke dalam akuarium hewan-hewan kesayangannya.
“Waw.. Ini hebat, sejak kapan kalian bisa bicara. Bukannya sebelumnya kalian bahkan tidak pernah bersuara?” tanya YUME dengan kagum.
“Jangan ribut…” kata Futa sambil memperebutkan makanan. Nampak seperti lebih galak peliharaan daripada yang memelihara. Namun YUME hanya tersenyum, dia membayangkan akan memiliki teman ngobrol saat sepi di rumah.

:TOK!TOK!TOK!:
Suara pintu diketuk oleh seseorang. Siapa lagi selain Ryota yang gendut ingin menyantap makanan aneh itu. YUME meninggalkan peliharaan istimewa miliknya dan menuju ke depan pintu masuk rumah.
”Oke YUME kau siap??” Sahut paman itu.
“AYOO..!!” kata YUME semangat, selain ingin melahap sa’e, dia juga penasaran dengan anak tetangga tadi.
“Siapa tau dia menjadi bisa menjadi teman baru lagi,” pikir YUME.

Mereka berdua berjalan dengan tidak sabar. Setelah sampai di depan pintu Ryota dengan yakin mengetuk pintu.
:TOK!TOK!TOK!: “Permisiii…” kata Ryota dengan wajah yang semangat.
“Iya tunggu sebentar, aku datang…” suara seorang wanita berjalan dengan langkah kaki menggunakan hak tinggi. Seorang wanita cantik membuka pintu.
“Maaf apakah kami mengganggu??” kata Ryota.
“Owh tentu tidak, aku hanya lagi menyaksikan Raka bermain piano.” Kata wanita itu sambil menunjuk seorang anak yang duduk di depan tuts piano dan membelakangi pintu.
“Paman ayo kita ikut lihat.” Kata YUME.
“Owh silahkan masuk.” Kata wanita itu dengan cepat.

YUME dan Ryota masuk dan duduk di sebuah kursi tamu yang terbuat dari akar pohon. Kursi yang aneh tapi antik. Mereka nampak terpana melihat melihat kemampuan anak laki-laki itu.
“Silahkan dimakan cemilannya.” Kata wanita itu sambil membuka tutup toples.

Terlihat benda-benda hitam di bungkus plastik. Bentuknya bulat lonjong dan nampak mengerikan. YUME mengambil cemilan itu, dia membuka pembungkus makanan itu. Memberanikan diri memakan cemilan itu. Rasanya manis namun agak legit dan lengket di mulut. Wanita itu tersenyum melihat tingkah YUME yang aneh.

“Makanan apa ini??” tanya Ryota.
“Itu namanya dodol… Makanan khas dari Indonesia,” jawab wanita itu sambil tersenyum.
“Apa ini yang kamu makan kemarin??” bisik Ryota pada YUME.
“Bukan..” jawab YUME.

Belum selesai kekaguman kedua orang aneh itu. Muncul suara alat musik lain seolah mengiringi permainan piano Raka.
“Waah Ayah juga tidak mau kalah..” kata wanita itu memberitahukan kalau itu adalah suaminya yang sedang memainkan biola. Memang keluarga pemusik. Mereka berdua belum sempat meminta makanan sa’e bahkan belum sempat bertanya apa saja bahan untuk membuatnya.

“tante aku mao sa’e…” kata YUME berinisiatif.
“Sa’e, apa itu??” perempuan itu kebingungan.
“Itu, makanan yang tante berikan buat kami kemarin,” kata YUME dengan mantap.
“Owh.. Sate maksud kalian?” kata wanita itu sambil tertawa lucu, dua orang beg# yang baru tau tentang sate.
“Baiklah karena kalian menyukai makanan buatan ku, aku akan masak yang banyak khusus buat kalian berdua..” katanya sambil bergegas meninggalkan mereka.

Wanita itu menuju ke belakang dan menghilang di balik pintu. Mungkin itu dapur. YUME dan Ryota masih melihat anak bernama Raka masih belum lelah memainkan piano. YUME nampak menikmati alunan musik piano dan biola. Raka membelakangi mereka berdua sehingga tidak nampak wajah anak itu, sedang ayahnya memainkan biola di balik kamar. YUME ingin sekali melihat wajah anak itu. Namun belum sempat dia berdiri dari tempat duduk, wanita tadi datang dan membawa makanan aneh kemarin malam. Sate yang masih hangat dan dengan nasi aneh yang seperti telah diberi pewarna dan dicetak dengan mesin khusus.

“Ini sate dan lontong untuk kalian, silahkan jangan sungkan…” kata wanita itu. Nama nasi hijau itu ternyata lontong.
“Memang tidak sungkan, ayo YUME. Selamat makan…” Ryota tidak perduli sekitar langsung melahap makanan itu seperti bukan seorang juragan rumah makan yang kaya.
“Lebih mirip pengemis kelaparan,” pikir YUME.

YUME juga mengambil satu tusuk sate dan lontong namun baru sampai dalam mulut…
“Bunda aku juga mau sate…” suara seorang anak laki-laki. YUME melihat ke arah anak itu.
:eghhh.. uhuk,uhuk,uhuk..: YUME mendadak tersedak begitu melihat ke arah wajah anak itu.
“Owh Raka juga mau, sebentar bunda siapkan..” kata wanita itu sambil menuju ke tempat yang sama seperti tadi.
“YUME kalau makan pelan-pelan…” kata Ryota sambil menawarkan minuman kepada YUME. YUME meneguk minuman itu sambil merintih kesakitan karena tersedak.

(kenapa YUME tersedak melihat anak itu?? Kenapa peliharaan YUME bisa berbicara???)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s